Jumat, 12 November 2010

Kimitachi ga Irukara


(Chapter 1)

Pada zaman dahulu kala, hiduplah sepasang kakak beradik yang hidup miskin di sebuah gubuk kecil di dalam hutan. Sang kakak bernama Eclair Farron, namun lebih sering dipanggil Lightning. Sementara sang adik bernama Serah Farron.
Mereka hidup di masa pemerintahan Pangeran Snow yang terkenal kejam dan suka korupsi. Dan menurut isu-isu yang beredar di kalangan rakyat biasa, Gayus adalah salah satu muridnya.
Pada suatu hari, Lightning sedang mencari kayu bakar di hutan sambil membawa gunblade-nya.
Lightning: “Semoga hari ini aku mendapat kayu bakar yang banyak.”
Tiba-tiba, Lightning menemukan sebuah persik yang besar yang mengeluarkan cahaya terang.
Lightning: “Ini apa, ya?”
Karena penasaran, Lightning pun membelah buah persik tersebut. Dan dari dalam buah persik itu, keluarlah seorang bocah laki-laki. Lightning kaget.
Lightning: “Kamu siapa?”
Bocah persik: “Namaku adalah Hope. Selama ini aku ada di dalam persik itu. Dan kamu sudah mengeluarkan aku dari sana. Maka aku akan bekerja membantumu.”
Sementara itu, Serah sedang mencuci pakaian di tepi sungai. Tiba-tiba, ia menemukan bambu raksasa yang hanyut. Ia pun mengambil bambu itu.
Serah: “Kayaknya bambu ini bisa dijadikan cadangan kalau Light-san nggak menemukan cukup kayu bakar.”
Maka Serah pun membawa bambu itu pulang.
Sesampainya di rumah.
Serah: “Light-san, waktu mencuci baju di sungai tadi aku menemukan bambu ini.”
Lightning: “Besar banget! Kebetulan, soalnya tadi waktu mencari kayu di hutan aku nggak dapat kayu, tapi aku menemukan persik yang saat kubelah, seorang bocah bernama Hope keluar dari dalam persik itu.”
Serah: “Tapi sepertinya bambu ini terlalu besar untuk bisa masuk ke rumah kita.” (melirik ke rumahnya)
Lightning: (sweatdropper) “Yah, mungkin sebaiknya kupotong-potong dulu bambu itu.”
Lightning pun memotong bambu yang dibawa Serah. Tapi ketika baru 1 kali tebasan dan bambu terbelah jadi 2, seorang putri keluar dari dalam bambu itu.
Lightning: (sweatdropper) ‘Hidupku kenapa sih? Semua benda yang aku belah keluar orangnya.’
Putri bambu: “Terimakasih sudah mengeluarkanku dari dalam bambu. Mulai sekarang, aku akan mengabdi pada kalian.”
Serah: “Kamu siapa, sih?”
Putri bambu: “Namaku adalah Vanille.”
Serah: “Ah, kamu kan putri. Mana mungkin bakalan mengabdi padaku? Pasti nanti ending-endingnya kami yang harus mengabdi padamu.”
Vanille: “Eh? Nggak. Nggak kok. Suer!” (mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah)
Serah: “Bohong?”
Vanille: “Nggak deh. Aku janji.”
Serah: “Nggak mau.”
Vanille: “Tolonglah. Kalo nggak di sini, mau di mana lagi aku tinggal?” MySpace (menunjukkan wajah melas)
Serah: “Ah, ya udah deh. Kamu boleh tinggal di sini. Asal kamu janji nggak bakal minta yang aneh-aneh.”
Vanille: “Terimakasih, Serah-sama!! Terimakasih banyak!!” (memeluk Serah)
Dan sejak saat itu, Hope dan Vanille menjadi bagian dalam kehidupan Lightning dan Serah.
Lightning: “Oya, omong-omong, Serah, baju yang tadi kamu cuci mana?”
Serah: ⁰□⁰ “Ah! Aku lupa!”
Lightning: “Cepat cari sampai ketemu!!”
Serah: (narik kerah baju Vanille dan lari mencari cucian) “Eh, iya, iya!! Aku cari sekarang!”
Di sungai.
Serah: (hampir nangis) “Aduh, mana nih bajunya. Nggak ketemu.”
Vanille: “Mungkin hanyut terbawa arus sungai. Coba kita ikuti arah aliran sungai.”
Serah dan Vanille pun mengikuti arah arus sungai untuk bisa menemukan bajunya yang hanyut. Mereka bertemu dengan penggembala pegasus dan chocobo farmer yang sedang memandikan pegasus dan chocobo mereka di sungai. Mereka mengatakan bahwa baju mereka tadii diambil oleh Mbok Fang yang tinggal di sebuah rumah di pinggir sungai. Serah dan Vanille pun terus mengikuti arus sungai hingga sampai ke rumah Mbok Fang.
Serah: “Permisi. Kulo nuwun.”
Mbok Fang: “Maaf, ngamen hari Jum’at.”
Serah dan Vanille: MySpace
Serah: “Anu, maaf mengganggu. Tapi kami sedang mencari baju kami yang hanyut di sungai.”
Mbok Fang: “Oh, kenapa nggak bilang dari tadi?”
Mbok Fang pun membukakan pintu dan mempersilakan Serah dan Vanille masuk. Kemudian Mbok Fang pun masuk ke dalam rumah untuk mengambil baju Serah.
Mbok Fang: “Ini baju kalian. Untung saja tadi aku menemukan baju kalian. Kalau tidak, mungkin sekarang sudah ada di laut.” (menyerahkan sebakul baju pada Serah)
Serah: “Terimaka...”
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki besar. Bum! Bum! Bum!
Mbok Fang: “Oh, tidak! Itu adalah Pak Sazh! Cepat lari, atau kalian akan dimakannya. Bawalah biji mentimun, garam, dan terasi ini. Kalau Pak Sazh sudah dekat dengan kalian, lemparkan saja barang-barang itu.” (memberikan biji mentimun, garam, dan terasi pada Vanille)
Serah dan Vanille pun lari melalui pintu belakang. Pak Sazh yang melihat mereka pun mengejar mereka. Saat Pak Sazh sudah terlihat begitu dekat dengan Serah dan Vanille, Vanille pun melemparkan biji mentimun ke arah Pak Sazh. Biji mentimun itu pun berubah menjadi kebun mentimun. Pak Sazh yang kelaparan pun memakan mentimun-mentimun itu. Sementara Pak Sazh sibuk dengan mentimun-mentimun itu, Serah dan Vanille berlari untuk menambah jarak di antara mereka dengan Pak Sazh.
Lama-kelamaan, Pak Sazh kembali terlihat sudah dekat. Maka Vanille pun melemparkan garam. Garam itu berubah menjadi lautan yang membatasi Serah dan Vanille dengan Pak Sazh. Pak Sazh berusaha berenang menyeberangi lautan itu. Namun gerakannya menjadi lebih lambat karena ia tidak pandai berenang.
Pak Sazh: “Tunggu kalian!”
Tapi Serah dan Vanille terus berlari. Saat Pak Sazh sudah terlihat dekat kembali, Vanille sudah akan melemparkan terasi biar berubah jadi kubangan lumpur hisap. Tapi...
Pak Sazh: “Tunggu! Jangan lempar itu dulu! Aku tidak ingin memakan kalian.”
Serah: “Kalau bukan mau memakan kami, kenapa kamu mengejar kami?”
Pak Sazh: “Aku cuma mau minta terasi itu. Soalnya terasi di rumah sudah habis, padahal aku mau bikin sambel terasi untuk makan siang.”
Serah dan Vanille: MySpaceOh, ternyata raksasa juga hobi makan sambel terasi toh.’
Vanille: “Ya sudah. Ini, ambil saja.” (memberikan terasi pada Pak Sazh)
Pak Sazh: “Terimakasih, anak-anak manis. Ini hadiah untuk kalian. Bukalah saat sampai di rumah nanti.” (memberikan buah labu pada Vanille)
Serah dan Vanille: “Terimakasih kembali, Pak Sazh.”
Sampai di rumah...
Lightning: “Gimana? Bajunya sudah ketemu?”
Serah: “Sudah.”
Vanille: “Dan kami dapat hadiah buah labu dari Pak Sazh.”
Serah: “Biasanya sih, isinya emas dan perhiasan gitu. Coba kita buka.”
Vanille pun membanting buah labu itu ke lantai. Dan ternyata...
BRUUUUUT!!
Lightning, Hope, Serah, Vanille: (berhamburan keluar rumah sambil nutup hidung)
Lightning: “Apanya yang emas dan perhiasan? Itu sih, hasil ekskresi manusia! Uhuk! Hoek!!”


Lightning, Hope, Serah, Vanille: “Huaah!! Udara!! Udara segar!!” (tepar di luar studio)
Ciel: “Hehe. Ending yang mengejutkan bukan?”
Serah: “Loe mau nyiksa kami yah?”
Sazh: “Hoho. Ternyata bom kotoran Chocochick ampuh juga untuk mengalahkan para tokoh utama.” (manggut-manggut) MySpace
Lightning: “Hoi, author! Loe mau gua bunuh ya? Loe mau gua kurung di gubuk itu selama seminggu dengan koleksi kotoran Chocochick-nya Sazh?”
Ciel: “Ampun! Aku cuma menjalankan tugasku!”
Hope: “Hooh, gua dikit banget ngomongnya di sini.”
Snow: “Hmm, gua jadi pangeran yang jahat dan kejam ya? Asik! Bisa menyiksa Lightning juga akhirnya! Fu fu fu~.” (matanya berubah menjadi S-Mode) MySpace MySpace
Lightning: “Loe bilang apa tadi?” (menghunus gunblade) MySpace
 Snow: “Eh? Ng... nggak kok. Gua cuma heran aja, di cerita zaman dulu ternyata bisa ditemukan juga gunblade.”
Vanille: “Ini sebenarnya ceritanya mau Momotaro, Kaguya Hime, Bawang Merah Bawang Putih, atau Timun Mas sih?”
Ciel: “Ini cerita Kimitachi ga Iru Kara (karena kalian di sini). ^^ ”
Hope: “Baiklah, minna~! Terimakasih sudah membaca fic yang menyiksa para tokohnya ini. Mohon komentarnya!”
Ciel dan semua tokoh: “Jaa~! Sampai jumpa di chapter berikutnya!!” MySpaceMySpaceMySpace
*tirai menutup*

2 comments:

GakkO nO taSuku mengatakan...

SHOU AI.NE ENDI?
KOK GAG DITERBITKAN....
UHHH, AQO PENGEN MOCO KUI

Uchinori mengatakan...

gomen ne, senpaaai~ setelah dipikir" banyak bangian yang harus diedit biar ga nggantung antara sho-ai sama yaoi ^^

Poskan Komentar