FINAL FANTASY
END OF CRYSTALS
Kaasan no Tanjoubi
~Special Gift for Mother Earth~

Fanfic ini dibuat atas dasar rasa hormat saya pada Aerith, yang selama ini sudah menjadi inspirator buat saya. Dan di tanggal 7 Februari ini, saya membuatkan fanfic sebagai hadiah ulang tahun saya kepada Aerith-kaasan.Tapi maaf kalau fanfic ini terasa garing. Karena saya memaksakan diri membuatnya saat saya sedang hiatus. Dozo~

~Hope POV~
Bulan Februari. Aku sedang berjalan-jalan di sepanjang jalanan Midgar City. Ah, aku baru menyadari kalau kota ini ternyata begitu ramai. Tiba-tiba, kulihat seorang gadis yang kukenali. Ami Aerith Strife. Ia terlihat sedang melihat-lihat barang di salah satu etalase toko. Aku menghampirinya dan kutepuk pundaknya. Ia menoleh.
~End of Hope POV~

“Sedang apa?” tanya Hope.
“Oh, hai, Hope. Aku sedang mencari hadiah yang cocok untuk ibuku. Sebentar lagi ibuku ulangtahun,” jawab Ami.
“Lalu? Apa yang akan kau hadiahkan?” tanya Hope.
“Maka dari itu. Aku tidak tahu apa yang akan aku hadiahkan untuk Ibu. Ada saran?” tanya Ami.
“Kenapa kau malah bertanya padaku? Aku, kan, tidak begitu mengenal ibumu. Kau yang tahu bagaimana ibumu. Dan pasti kau tahu apa yang harus kau berikan pada ibumu,” kata Hope.
“Uhh, tapi aku bingung, Hope,” kata Ami.
“Baiklah, ayo kita pikirkan sambil jalan. Siapa tahu nanti akan ada inspirasi yang muncul. Mau kutemani minum?” kata Hope.
Hope dan Ami pun pergi ke salah satu café.
“Jadi bagaimana? Sudah ada inspirasi?” tanya Hope.
“Banyak barang bagus yang kulihat. Tapi aku tidak tahu mana yang lebih baik untuk kuberikan pada Ibu,” jawab Ami.
“Tidak perlu barang yang bagus dan mahal. Yang terpenting adalah arti dibalik hal tersebut,” kata Hope.
***
Ami masih berpikir tentang kado untuk ibunya. Ia juga memikirkan kata-kata Hope tadi.
‘Apa? Apa yang harus kuberikan sebagai hadiah ulangtahun Ibu?’ tanya Ami dalam hati.
Tiba-tiba, ayahnya masuk.
“Ami, kau sibuk?” tanya Cloud.
“Tidak. Ada apa?” tanya Ami.
“Tolong bantu ibumu mengurus panti asuhan. Banyak pekerjaan hari ini,” kata Cloud.
“Baik. Aku ke sana sekarang,” kata Ami.
“Anak baik. Oya, apa yang akan kau berikan untuk ibumu di hari ulangtahunnya nanti?” tanya Cloud.
“Entahlah, Ayah. Aku masih memikirkannya. Kalau Ayah?” tanya Ami.
“Setelah kau selesai membantu ibumu, temui Ayah di Seventh Heaven. Ayah akan mengajakmu ke suatu tempat,” kata Cloud.
“Baiklah,” kata Ami.
***
Ami selesai dengan pekerjaannya di panti asuhan jam 8 malam. Dan sesuai permintaan ayahnya, ia segera menemui ayahnya di Seventh Heaven.
“Selamat malam, Ami. Tumben kau datang kemari. Ada perlu?” sapa Tifa dengan ramah.
“Aku mau menemui Ayah. Apa Ayah ada?” tanya Ami.
“Ayahmu sedang mengirimkan barang. Sebentar lagi paling dia juga kembali. Tunggu saja di sini,” kata Tifa.
“Baiklah kalau begitu,” kata Ami sambil duduk di salah satu bangku.
“Mau kubuatkan minum? Gratis untukmu,” tawar Tifa.
“Tidak, terimakasih,” jawab Ami.
“Ngg... Ami, mungkin lebih baik kau menunggu di dalam. Seventh Heaven selalu ramai di malam hari. Aku takut gadis manis sepertimu diganggu,” kata Tifa.
“Ah, ya. Aku akan menunggu di dalam saja,” kata Ami.
Ami menunggu di lantai bawah tanah, tempat para pekerja di Seventh Heaven berkumpul.
“Hai, Ami. Ada perlu apa kau ke sini?” tanya Marlene.
“Aku diminta Ayah untuk datang ke sini. Tapi sepertinya Ayah sedang keluar sebentar. Jadi aku akan menunggu di sini. Boleh, kan, Marlene-san?” tanya Ami.
“Tentu saja. Kau diterima dengan tangan terbuka di sini,” jawab Marlene.
Ami menunggu sambil berbincang-bincang dengan Marlene dan Denzel. Hope juga bekerja part-time di Seventh Heaven. Hanya saja, dia sudah pulang dari pukul 6 tadi bersama Lightning. Tak lama kemudian, Cloud datang. Kemudian mereka menuju ke tempat yang dijanjikan Cloud.
“Di sini, Ami,” kata Cloud.
Ami terkejut. Ami pernah melihat tempat itu di salah satu foto milik ayah dan ibunya. Di foto itu, tempat itu begitu indah meskipun berupa reruntuhan. Tapi keadaan tempat itu begitu menyedihkan saat ini.
“Ini adalah tempat yang penuh kenangan. Tapi akhir-akhir ini Aerith tidak punya waktu untuk mengurus ini. Ia selalu mengkhawatirkan tempat ini. Ia pasti akan sangat sedih melihat keadaan ini,” kata Cloud.
“Jadi apa yang bisa kulakukan?” tanya Ami.
“Kau memiliki kekuatan Cetra, sama seperti ibumu. Aku yakin kau bisa mengembalikan tempat ini seperti semula,” kata Cloud.
“Aku akan berusaha, Ayah,” kata Ami.
Besoknya, secara diam-diam Cloud dan Ami memperbaiki tempat yang kemarin. Mereka terus bekerja keras hingga saat yang ditunggu tiba.

~7 Februari~

~Aerith POV~
Aku bangun terlalu siang hari ini. Kemarin pekerjaanku begitu banyak di panti asuhan. Untunglah Ami bersedia membantuku meskipun hanya sebentar. Akhir-akhir ini dia ikut ayahnya bekerja di Seventh Heaven, bahkan sampai malam. Ia pasti bekerja sangat keras di sana.
Hmm... Rumah sudah sepi. Pasti Cloud dan Ami sudah berangkat ke Seventh Heaven. Terkadang aku merasa kesepian. Baru kusadari, Ami sudah besar. Ia memiliki kehidupannya sendiri yang mungkin aku tidak bisa ikut campur ke dalamnya.
Aku ingat ketika dulu Ami masih kecil. Cloud rela pulang hanya karena aku meneleponnya bahwa Ami sudah bisa mengucapkan “ayah” dan “ibu”. Dan Cloud bahkan sampai tidak masuk kerja hanya untuk menemaniku saat aku masih mengandung Ami.
Aku memandang foto-foto di rak. Mataku terpaku pada sebuah foto. Di foto itu, aku menggendong Ami yang masih berumur 2 minggu dan Cloud di sebelahku. Di belakang kami, sebuah tempat yang begitu penuh kenangan. Ah, bagaimana keadaan tempat itu sekarang, ya? Aku tidak pernah punya waktu untuk mengunjunginya. Nanti kalau aku ada waktu luang, aku akan mengunjungi tempat itu.
Ah! Gawat! Aku terlambat untuk ke panti asuhan. Aku harus segera bersiap-siap ke sana!
~End of Aerith POV~

~Ami POV~
Aku dan Ayah menyelesaikan pekerjaan lebih cepat hari ini. Kami harus segera bersiap-siap. Rencana sudah kupersiapkan dengan baik. Tinggal apakah cara memanggil Ibu secara diam-diam itu akan berhasil atau tidak. Tapi menurut buku yang kubaca, seorang Cetra bisa memengaruhi pikiran sesama Cetra untuk memanggilnya. Jadi semoga semuanya berhasil sesuai rencana.
~End of Ami POV~

~Aerith POV~
-Sore -
Aku pulang lebih cepat hari ini. Aku merasakan firasat buruk.
Kulihat rumah masih sepi. Cloud dan Ami pasti pulang malam lagi. Memang hal itu sudah biasa. Tapi entah kenapa aku merasa khawatir. Jadi aku pergi ke Seventh Heaven. Selama perjalanan, aku terus menerus berdoa, semoga semuanya baik-baik saja.
Sesampainya di Seveth Heaven, aku tidak melihat Fenrir milik Cloud. Kuharap itu karena Cloud sedang keluar untuk mengirim barang. Aku masuk.
“Hai, Aerith. Lama tidak bertemu. Ada apa kau ke sini?” sapa Tifa dengan sedikit terkejut.
“Apa Cloud dan Ami ada?” tanyaku.
“Eh? Cloud dan Ami sedang keluar,” jawab Tifa, terlihat gugup.
“Kemana?” tanyaku lagi.
“Tentu saja mengirimkan barang, Aerith-san,” kata Marlene.
“Bisakah aku menunggu?” tanyaku.
“Silahkan. Apa mau kubuatkan minum?” tanya Marlene.
“Ya, tolong,” jawabku.
“Kau mau apa?” tanya Aerith.
“Aku mau teh hijau,” kataku.
“Baik. Mohon menunggu, ya, Aerith-san,” kata Marlene. Ia masuk ke dalam untuk menyiapkan minum.
“Kau sepertinya khawatir, Aerith. Ada apa?” tanya Tifa.
“Aku mengkhawatirkan Cloud dan Ami,” jawabku.
“Kenapa? Bukankah mereka biasanya juga pulang malam?” tanya Tifa.
“Ya. Tapi entah kenapa, aku merasa begitu khawatir,” kataku.
“Tenanglah, Aerith. Mereka baik-baik saja,” kata Tifa.
“Ya. Semoga saja,” kataku.
~End of Aerith POV~

Ami dan Cloud sudah menyelesaikan persiapan di tempat kenangan itu. Ami menggunakan energinya begitu banyak. Cloud memberinya sebotol elixir low caffeine untuk memulihkan energinya yang terkuras cukup banyak.
“Tinggal sedikit lagi. Ayo segera selesaikan,” kata Cloud.
“Kau Cetra, eh?” Cloud dan Ami menoleh. Seekor monster sudah menempel di salah satu pilar.
“Kau siapa?” tanya Cloud.
“Aku mencium energi Cetra yang sangat kuat di sini. Aku ingin itu,” kata monster itu.
“Mundur, Ami,” kata Cloud sambil bersiap dengan Buster Sword-nya.
Ami menjauh dari ayahnya.
“Kau cukup berani untuk menghadapiku sendirian,” kata monster itu.
Monster itu melompat turun. Cloud menahan monster itu dengan Buster Sword dan melemparkannya menjauh darinya. Monster itu melesat ke arah Cloud dan mencengkeram Buster Sword Cloud. Cloud berusaha menahan Buster Sword-nya. Dengan sisa kekuatannya, ia mendorong Buster Sword-nya dan merobek tubuh monster itu. Darah hitam muncrat keluar dari tubuhnya. Monster itu meraung sangat keras memekakkan telinga. Cloud melemparkan monster itu. Si monster jatuh dan menabrak pilar. Pilar pun runtuh menimpa si monster. Cloud berbalik untuk melihat keadaan Ami.
“Bagaimana keadaanmu, Ami? Kau tidak terluka?” tanya Cloud.
“A... AYAAAH!!!” jerit Ami.
Sebelum Cloud sempat membalikkan badannya, si monster sudah merubuhkannya. Buster Sword terlepas dari tangan Cloud. Cloud tidak bisa bergerak. Ami ketakutan. Tapi ia masih bisa berpikir dengan jernih. Ia berlari untuk mengambil Buster Sword. Monster itu menyadari gerakan Ami. Ia melompat ke depan Buster Sword dan menghalangi Ami. Ami mundur beberapa langkah. Monster itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memperlihatkan cakar-cakar tajamnya yang siap melukai Ami.
Si monster mencakar Ami. Tapi Ami masih sempat menghindar sehingga nyawanya masih bisa terselamatkan. Hanya saja, tangan kirinya terkena cakar monster itu dan lukanya cukup dalam. Tiba-tiba, si monster ambruk dan hampir saja menimpa Ami. Di belakang si monster, Lightning mencabut pedangnya dari tubuh si monster. Monster itu berubah menjadi bunga-bunga api kecil berwarna hijau dan melayang ke langit lalu menghilang.
“Ami, kau tidak apa-apa?” tanya Aerith, ia berlari menuju putri satu-satunya.
“Aku tidak apa-apa, Ibu. Hanya luka kecil. Tapi Ayah...” kata Ami sambil menatap ayahnya.
Aerith mengeluarkan Great Gospel. Dengan seketika, luka-luka ami dan Cloud pun sembuh.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Aerith.
“Aku dan Ayah ingin membuat kejutan untuk Ibu. Jadi kami menanam bunga di sini dan mengembalikan tempat ini seperti semula,” kata Ami.
“Kalau kau marah karena pertarungan ini, jangan marahi Ami. Aku yang menyebabkan ini semua,” kata Cloud.
Aerith tertawa.
“Untuk apa aku marah? Kalian sudah bekerja keras untuk ini semua. Midgar Church. Tempat di mana ada Lifestream di sini,” kata Aerith.
“Ya. Karena itu aku bisa menanam bunga di sini,” kata Ami.
Aerith memeluk Ami.
“Terimakasih, Ami. Terimakasih, Cloud,” kata Aerith.
“Selamat ulangtahun, Ibu,” kata Ami.
“Selamat ulangtahun, Aerith,” kata Cloud.
“Ibu, ini hadiah untuk Ibu,” kata Ami sambil memberikan sebuah keranjang berisi penuh bunga.
“Ini...” kata Aerith.
“Aku membuatnya sendiri,” kata Ami.
“Panti asuhanmu akan dipindah di sini. Jadi, kau bisa bekerja di panti asuhan sekaligus merawat tempat ini. Lagipula, tempat ini lebih dekat dengan rumah kita, kan, daripada panti asuhan yang sekarang?” kata Cloud.
“Ehm, maaf mengganggu,” kata Lightning, “Bisa kuambil foto kalian?”
***

Terimakasih, Cloud. Terimakasih, Ami. Berkat kalian, aku bisa merasakan ulangtahun yang terasa begitu indah. Kalian tahu? Hadiah terbaik bagiku bukanlah kalian memperbaiki Midgar Church. Tapi hadiah terbaiknya, akhirnya kita bisa berkumpul bersama lagi.
-Aerith Gainsborough-










2 comments:

Yuki mengatakan...

nice story. benar2 kreativ!!!

Fantasy Never Dies mengatakan...

sankyuu~ ^^

Poskan Komentar